Jumat, 26 Juni 2015

Perbedaan Belajar di Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah - lanjutan

ini adalah postingan lanjutan dari postingan saya sebelumnya tentang Perbedaan Belajar di Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah. apabila teman-teman ada yang belum membacanya, silahkan klik disini.

Perubahan staus dari siswa menjadi maha-siswa menuntut perubahan sikap mental (attitude) dan perilaku seseorang. Satu hal yang mutlak ditingkatkan adalah Kemandirian. Orang yang mandiri tidak menggantungkan harapan kepada pihak lain, entah itu dosen entah teman kuliah. Dia meyakini bahwa nasibnya lebih banyak dia tentukan sendiri meskipun tidak tertutupkemungkinan meminta bantuan kepada orang lain.
Pada dasarnya, proses belajar adalah proses perseorangan (individual). Seseorang dpat belajar jika dia secara aktif selama waktu tertentu berupaya mengetahui sesuatu. Berbagai pernyataan menekankan hal tersebut, seperti ‘tidak ada yang dpat mengajarkan anda, tetapi anda dpat belajar’, atau ‘hanya anda sendiri yang dapat mendidik anda’. Artinya, harus ada kemauan untuk menangkap isi kuliah atau membaca buku, mempelajari dan memahaminya. 

Seseorang tidak akan memahami esensi pengetahuan tanpa komitmen dan ketekunan mempelajari materi yang diajarkan atau ditemukan disekitarnya. Menjadi sia-sia semua penjelasan dosen atau uraian yang dipelajari pada suatu buku jika mahasiswa tidak menggunakan cukup waktu secara pribadi mempelajari materi tersebut. Harus ada proses internalisasi.

Belajar mandiri tidak berarti peranan dosen dan tenaga kependidikan lainnya tidak penting. Dosen dan lembaga perguruan tinggi telah mengembangkan sistem pengajaran. Dalam pelaksanaannya, dosenlah yang mengarahkan mahasiswa dan merupakakn salah satu sumber utama perguruan tinggi. Namun, kesempatan sangat terbatas untuk interaksi langsung denga dosen. Karena itu, seyogianya seorang mahasiswa dituntut untuk mampu belajar diluar jadwal kegiatan akademik yang telah ditetapkan, salah satunya dengan mengikuti kegiatan organisasi. Jika hanya mengandalakan pelajaran yang diterima dari dosen, pengetahuan yang diperoleh akan jauh dari memadai. Bahkan banyak mahasiswa yang berpendapat bahwa proses belajar mahasiswa kebanyakan terjadi diluar ruangan kelas.

Kemandirian juga diharapkan dalam kaitannnya dengan teman sesama mahasiswa. Sewaktu di sekolah memnengah, seorang siswa mungkin sering mengikuti saja temannya dalam menjalankan kegiatan dan menyelesaikan tugas-tugas. Di perguruan tinggi, kebiasaan seperti itu perlu diubah untuk karena tidak ada lagi keseragaman antar peserta didik. Setiap mahasiswa akan menghadapi masalah yang unik, yang tidak sama dengan yang dihadapi rekannya sesama mahasiswa. Perbedaan itu mungkin terletak pada jenis dan jumlah mata kuliah, yang diambil pada setiap semester, dosen pembimbing akademik, kemampuan perseorangan, masalah yang akan dihadapi, arah studi, dan lain-lain. 

Memang belajar secara mandiri tidak berarti tidak dapat bekerja sama dengan teman sekuliah. Kerja sama sering diperlukan, namun kerja sama di antara orang yang saling bersandar tentu berbeda dengan di antara orang yang mandiri.


Tujuan pendidikan tinggi secara utuh tentulah lebih dari sekedar penguasaan sejumlah inforamasi dan keterampilan berkaitan dengan bidang studi yang digeluti. Tidak semua tujuan itu bisa diajarkan di ruang kuliah atau laboratorium. Satu sisi kehidupan akademik ialah penalaran. Proses belajar yang baik juga akan menngkatkan kemampuan bernalar. Lulusan perguruan tinggi diharapkan independen dan berdaulat secara intelektual, yakni mampu berpikir dan mencapai simpulan secara mandiri, tanpa ada plagiarisme atau fotocopy.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar